Selasa, 13 Januari 2015

Penurunan Kesadaran


ASUHAN KEPERAWATAN | ARTIKEL KESEHATAN
Kumpulan Asuhan Keperawatan, Informasi Keperawatan, Askep, Rencana Asuhan Keperawatan, dan Informasi Kesehatan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENURUNAN KESADARAN
A. PENGERTIAN
Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu( Corwin, 2001 )
Penurunan kesadaran adalah keadaan dimanapenderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga / tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus.
Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang mengenal / mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya ( Padmosantjojo, 2000 ).

Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu :
1. Kompos mentis
Kompos mentis adalah kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam.
2. Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness
Mata cenderung menutup, mengantuk, masih dapat dibangunkan dengan perintah, masih dapat menjawab pertanyaan walau sedikit bingung, tampak gelisah dan orientasi terhadap sekitarnya menurun.
3. Stupor / Sopor
Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satu dua kata . Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang nyeri.
4. Soporokoma / Semikoma
Mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti, motorik hanya gerakan primitif.
5. Koma
Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal membuka mata, bicara maupun reaksi motorik.
( Harsono , 1996 )

B. ETIOLOGI
Untuk memudahkan mengingat dan menelusuri kemungkinan – kemungkinan penyebab penurunan kesadaran dengan istilah “ SEMENITE “ yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung
2. E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
3. M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
4. E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.
5. N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis
6. I : Intoksikasi
Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan penurunan kesadaran
7. T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
8. E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
( Harsono , 1996 )

C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinik yang terkait dengan penurunan kesadaran adalah :
1. Penurunan kesadaran secara kwalitatif
2. GCS kurang dari 13
3. Sakit kepala hebat
4. Muntah proyektil
5. Papil edema
6. Asimetris pupil
7. Reaksi pupil terhadap cahaya melambat atau negatif
8. Demam
9. Gelisah
10. Kejang
11. Retensi lendir / sputum di tenggorokan
12. Retensi atau inkontinensia urin
13. Hipertensi atau hipotensi
14. Takikardi atau bradikardi
15. Takipnu atau dispnea
16. Edema lokal atau anasarka
17. Sianosis, pucat dan sebagainya

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menentukan penyebab penurunan kesadaran yaitu :
1. Laboratorium darah
Meliputi tes glukosa darah, elektrolit, ammonia serum, nitrogen urea darah ( BUN ), osmolalitas, kalsium, masa pembekuan, kandungan keton serum, alcohol, obat-obatan dan analisa gas darah ( BGA ).
2. CT Scan
Pemeriksaan ini untuk mengetahui lesi-lesi otak
3. PET ( Positron Emission Tomography )
Untuk meenilai perubahan metabolik otak, lesi-lesi otak, stroke dan tumor otak
4. SPECT ( Single Photon Emission Computed Tomography )
Untuk mendeteksi lokasi kejang pada epilepsi, stroke.
5. MRI
Untuk menilai keadaan abnormal serebral, adanya tumor otak.
6. Angiografi serebral
Untuk mengetahui adanya gangguan vascular, aneurisma dan malformasi arteriovena.
7. Ekoensefalography
Untuk mendeteksi sebuuah perubahan struktur garis tengah serebral yang disebabkan hematoma subdural, perdarahan intraserebral, infark serebral yang luas dan neoplasma.
8. EEG ( elektroensefalography )
Untuk menilai kejaaang epilepsy, sindrom otak organik, tumor, abses, jaringan parut otak, infeksi otak
9. EMG ( Elektromiography )
Untuk membedakan kelemahan akibat neuropati maupun akibat penyakit lain.

F. PENGKAJIAN PRIMER
1. Airway
a. Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas
b. Terjadi penurunan kesadaran
c. Suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
d. Penggunaan otot-otot bantu pernafasan
e. Gelisah
f. Sianosis
g. Kejang
h. Retensi lendir / sputum di tenggorokan
i. Suara serak
j. Batuk

2. Breathing
a. Adakah suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
b. Sianosis
c. Takipnu
d. Dispnea
e. Hipoksia
f. Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi

3. Circulation
a. Hipotensi / hipertensi
b. Takipnu
c. Hipotermi
d. Pucat
e. Ekstremitas dingin
f. Penurunan capillary refill
g. Produksi urin menurun
h. Nyeri
i. Pembesaran kelenjar getah bening

G. PENGKAJIAN SEKUNDER
1. Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah klien pernah menderita :
a. Penyakit stroke
b. Infeksi otak
c. DM
d. Diare dan muntah yang berlebihan
e. Tumor otak
f. Intoksiaksi insektisida
g. Trauma kepala
h. Epilepsi dll.

2. Pemeriksaan fisik
a. Aktivitas dan istirahat
 Data Subyektif:
 kesulitan dalam beraktivitas
 kelemahan
 kehilangan sensasi atau paralysis.
 mudah lelah
 kesulitan istirahat
 nyeri atau kejang otot
 Data obyektif:
 Perubahan tingkat kesadaran
 Perubahan tonus otot ( flasid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum.
 gangguan penglihatan

b. Sirkulasi
 Data Subyektif:
 Riwayat penyakit stroke
 Riwayat penyakit jantung
Penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung,endokarditis bacterial.
 Polisitemia.
Data obyektif:
 Hipertensi arterial
 Disritmia
 Perubahan EKG
 Pulsasi : kemungkinan bervariasi
 Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

c. Eliminasi
Data Subyektif:
 Inkontinensia urin / alvi
 Anuria
Data obyektif
 Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh )
 Tidak adanya suara usus( ileus paralitik )

d. Makan/ minum
Data Subyektif:
 Nafsu makan hilang
 Nausea
 Vomitus menandakan adanya PTIK
 Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan
 Disfagia
 Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
Obesitas ( faktor resiko )

e. Sensori neural
Data Subyektif:
 Syncope
 Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
 Kelemahan
 Kesemutan/kebas
 Penglihatan berkurang
 Sentuhan : kehilangan sensor pada ekstremitas dan pada muka
 Gangguan rasa pengecapan
 Gangguan penciuman
Data obyektif:
 Status mental
 Penurunan kesadaran
 Gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang)
 Gangguan fungsi kognitif
 Ekstremitas : kelemahan / paraliysis genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam
 Wajah: paralisis / parese
 Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. )
 Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, stimuli taktil
 Kehilangan kemampuan mendengar
 Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
 Reaksi dan ukuran pupil : reaksi pupil terhadap cahaya positif / negatif, ukuran pupil isokor / anisokor, diameter pupil

f. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
- Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
 Tingkah laku yang tidak stabil
 Gelisah
 Ketegangan otot

g. Respirasi
Data Subyektif : perokok ( faktor resiko )

h. Keamanan
Data obyektif:
 Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
 Perubahan persepsi terhadap tubuh
 Kesulitan untuk melihat objek
 Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
 Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
 Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
 Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan
 Berkurang kesadaran diri

i. Interaksi sosial
Data obyektif:
 Problem berbicara
 Ketidakmampuan berkomunikasi

3. Menilai GCS
Ada 3 hal yang dinilai dalam penilaian kuantitatif kesadaran yang menggunakan Skala Coma Glasgow :
 Respon motorik
 Respon bicara
 Pembukaan mata
Ketiga hal di atas masing-masing diberi angka dan dijumlahkan.
Penilaian pada Glasgow Coma Scale
Respon motorik
Nilai 6 : Mampu mengikuti perintah sederhana seperti : mengangkat tangan, menunjukkan jumlah jari-jari dari angka-angka yang disebutkan oleh pemeriksa, melepaskan gangguan.
Nilai 5 : Mampu menunjuk tepat, tempat rangsang nyeri yang diberikan seperti tekanan pada sternum, cubitan pada M. Trapezius
Nilai 4 : Fleksi menghindar dari rangsang nyeri yang diberikan , tapi tidak mampu menunjuk lokasi atau tempat rangsang dengan tangannya.
Nilai 3 : fleksi abnormal .
Bahu aduksi fleksi dan pronasi lengan bawah , fleksi pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang nyeri ( decorticate rigidity )
Nilai 2 : ekstensi abnormal.
Bahu aduksi dan rotasi interna, ekstensi lengan bawah, fleksi pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang nyeri ( decerebrate rigidity )
Nilai 1 : Sama sekali tidak ada respon
Catatan :
- Rangsang nyeri yang diberikan harus kuat
- Tidak ada trauma spinal, bila hal ini ada hasilnya akan selalu negatif

Respon verbal atau bicara
Respon verbal diperiksa pada saat pasien terjaga (bangun). Pemeriksaan ini tidak berlaku bila pasien :
- Dispasia atau apasia
- Mengalami trauma mulut
- Dipasang intubasi trakhea (ETT)
Nilai 5 : pasien orientasi penuh atau baik dan mampu berbicara.orientasi waktu, tempat , orang, siapa dirinya , berada dimana, tanggal hari.
Nilai 4 : pasien “confuse” atau tidak orientasi penuh
Nilai 3 : bisa bicara , kata-kata yang diucapkan jelas dan baik tapi tidak menyambung dengan apa yang sedang dibicarakan
Nilai 2 : bisa berbicara tapi tidak dapat ditangkap jelas apa artinya (“ngrenyem”), suara-suara tidak dapat dikenali makna katanya
Nilai 1 : tidak bersuara apapun walau diberikan rangsangan nyeri

Respon membukanya mata :
Perikasalah rangsang minimum apa yang bisa membuka satu atau kedua matanya
Catatan:
Mata tidak dalam keadaan terbalut atau edema kelopak mata.
Nilai 4 : Mata membuka spontan misalnya sesudah disentuh
Nilai 3 : Mata baru membuka bila diajak bicara atau dipanggil nama atau diperintahkan membuka mata
Nilai 2 : Mata membuka bila dirangsang kuat atau nyeri
Nilai 1 : Tidak membuka mata walaupaun dirangsang nyeri

4. Menilai reflek-reflek patologis :
a. Reflek Babinsky
Apabila kita menggores bagian lateral telapak kaki dengan suatu benda yang runcing maka timbullah pergerakan reflektoris yang terdiri atas fleksi kaki dan jari-jarinya ke daerah plantar
b. Reflek Kremaster :
Dilakukan dengan cara menggoreskan kulit dengan benda halus pada bagian dalam (medial) paha. Reaksi positif normal adalah terjadinya kontrkasi M.kremaster homolateral yang berakibat tertariknya atau mengerutnya testis. Menurunnya atau menghilangnya reflek tersebut berarti adanya ganguan traktus corticulspinal

5. Uji syaraf kranial :
NI.N. Olfaktorius – penghiduan diperiksa dengan bau bauhan seperti tembakau, wangi-wangian, yang diminta agar pasien menyebutkannya dengan mata tertutup

N.II. N.Opticus
Diperiksa dengan pemerikasaan fisus pada setiap mata . digunakan optotipe snalen yang dipasang pada jarak 6 meter dari pasien . fisus ditentukan dengan kemampuan membaca jelas deretan huruf-huruf yang ada

N.III/ Okulomotoris. N.IV/TROKLERIS , N.VI/ABDUSEN
Diperiksa bersama dengan menilai kemampuan pergerakan bola mata kesegala arah , diameter pupil , reflek cahaya dan reflek akomodasi

N.V.Trigeminus berfungsi sensorik dan motorik,
Sensorik diperiksa pada permukaan kulit wajah bagian dahi , pipi, dan rahang bawah serta goresan kapas dan mata tertutup
Motorik diperiksa kemampuan menggigitnya, rabalah kedua tonus muskulusmasketer saat diperintahkan untuk gerak menggigit

N.VII/ Fasialis fungsi motorik N.VII diperiksa kemampuan mengangkat alis, mengerutkan dahi, mencucurkan bibir , tersentum , meringis (memperlihatkan gigi depan )bersiul , menggembungkan pipi.fungsi sensorik diperiksa rasa pengecapan pada permukaan lidah yang dijulurkan (gula , garam , asam)

N.VIII/ Vestibulo - acusticus
Fungsi pendengaran diperiksa dengan tes Rinne , Weber , Schwabach dengan garpu tala.

N.IX/ Glosofaringeus, N.X/vagus : diperiksa letak ovula di tengah atau deviasi dan kemampuan menelan pasien

N.XI / Assesorius diperiksa dengan kemampuan mengangkat bahu kiri dan kanan ( kontraksi M.trapezius) dan gerakan kepala

N.XII/ Hipoglosus diperiksa dengan kemampuan menjulurkan lidah pada posisi lurus , gerakan lidah mendorong pipi kiri dan kanan dari arah dalam

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan TIK, nekrosis jaringan, pembengkakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam.
Kriteria hasil :
- Tidak ada tanda – tanda peningkatan TIK
- Tanda – tanda vital dalam batas normal
- Tidak adanya penurunan kesadaran
Intervensi :
Mandiri :
- Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK
- Catat status neurologi secara teratur, bandingkan dengan nilai standart
- Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
- Pantau tekanan darah
- Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan penglihatan kabur
- Pantau suhu lingkungan
- Pantau intake, output, turgor
- Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk,muntah
- Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai
- Tinggikan kepala 15-45 derajat
Kolaborasi :
- Berikan oksigen sesuai indikasi
- Berikan obat sesuai indikasi

2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d obstruksi jalan nafas oleh sekret
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam.
Kriteria hasil:
- Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas
- Ekspansi dada simetris
- Bunyi napas bersih saat auskultasi
- Tidak terdapat tanda distress pernapasan
- GDA dan tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
Mandiri :
- Kaji dan pantau pernapasan, reflek batuk dan sekresi
- Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memberikan pengeluaran sekresi yang optimal
- Penghisapan sekresi
- Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam
Kolaborasi :
- Berikan oksigenasi sesuai advis
- Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi

3. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan adanya depresan pusat pernapasan
Tujuan :
Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam
Kriteria hasil:
- RR 16-24 x permenit
- Ekspansi dada normal
- Sesak nafas hilang / berkurang
- Tidak suara nafas abnormal
Intervensi :
Mandiri :
- Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
- Auskultasi bunyi nafas.
- Pantau penurunan bunyi nafas.
- Berikan posisi yang nyaman : semi fowler
- Berikan instruksi untuk latihan nafas dalam
Catat kemajuan yang ada pada klien tentang pernafasan
Kolaborasi :
- Berikan oksigenasi sesuai advis
- Berikan obat sesuai indikasi

4. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan selaama 1 jam, pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan :
- Bunyi paru bersih
- Warna kulit normal
- Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
Intervensi :
Mandiri :
- Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
- Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.
- Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
- Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.
- Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
- Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan
- Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.
- Pantau irama jantung
Kolaboraasi :
- Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
- Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997
2. Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998
3. Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001
4. Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
5. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
6. Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
7. Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
8. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
9. Harsono, Buku Ajar Neurologi Klinis, Yokyakarta, Gajah Mada University Press, 1996 )
10. Padmosantjojo, Keperawatan Bedah Saraf, Jakarta, Bagian Bedah Saraf FKUI, 2000
11. Markum, Penuntun Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis, Jakarta, Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI,

Tetanus


Lenny_Taecyeon's
Rabu, 23 Januari 2013

ASKEP TETANUS

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka
Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya teteanus ini terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah. Selain diluar tubuh manusia, tersebar luas ditanah. Juga terdapat di tempat yang kotor, besi berkarat samapai pada tusuk sate bekas. Basil ini bila kondisinya baik (di dalam tubuh manusia) akan mengeluarkan toksin. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit, dan merupakan tetanospamin, yaitu toksin yang neutropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.

1.2 Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan  pada klien dengan ganguan tetanus
2.      Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa mampu membuat pengkajian pada klien dengan gangguan tetanus.
2.      Mahasiswa mampu menegakkan diagnose pada klien dengan gangguan tetanus.
3.      Mahasiswa mampu mengimplementasi pada klien dengan gangguan tetanus.
4.      Mahasiswa mampu mengevaluasi pada klien dengan gangguan tetanus.

    1.3 Manfaat
1.      Bagi Mahasiswa
            Agar mahasiswa mengetahui penyakit tetanus yang disebabkan oleh organisme anaerob Clostiridium tatani yang berpoliferasi disebabkan keadaan  antara lain adalah luka tusuk dalam dan kotor serta belum terimunisasi, luka bakar karena lalu lintas, luka bakar, luka tembak, gigitan hewan/manusia, gigi berlubang, lesi pada mata, infeksi telinga, perawatan luka/tali pusar yang tidak baik. Sehingga perlu untuk menjaga supaya infeksi yang ada di bagian tubuh tersebut tidak berlanjut menyebabkan tetanus.Dan juga dapat dicegah  dengan membersihkan luka dengan H2O23%.Jika tidak ditangani secara cepat dapat menjadi kematian.
2.      Bagi Masyarakat
            Agar masyarakat mengetahui bagaimana proses terjadinya penyakit tetanus, dan masyarakat dapat mencegah terjadinya tetanus dengan mencegah terjadinya luka dengan infeksi piogenik dimana bakteri piogenik mengosumsi eksogen pada luka sehingga suasana menjadi anaerob yang pentingbagi tumbuhannya basil tetanus.
3.      Bagi insitusi
           Agar makalah ini menjadi refrensi untuk dapat menambah wawasan tentang bahayanya penyakit tetanus.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 LAPORAN PENDAHULUAN
2.1.1 Definisi Tetanus
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh Clostridium tetani. Terdapat beberapa bentuk klinis tetanus termasuk di dalamnya tetanus neonatrum, tetanus generalist dan gangguan neurologis lokal.
2.1.2 Etiologi
Clostridium tetani merupakan basil berbentuk batang yang bersipat anaerob, membentuk sepora (tahan panas), gram positif, mengeluarkan eksotoksin yang bersipat neotoksin ( yang efeknya mengurangi aktivitas kendali SSP), patogenesis bersimbiosis dengan mikroorganisme piogenik (pyogenic).
Basil ini banyak ditemukan pada kotoran kuda, usus kuda, dan tanah yang di pupuk kotoran kuda. Penyakit tetanus banyak terdapat pada luka dalam, luka tusuk, luka dengan jaringan mati ( cprpus alienum ) karena merupakan kondisi yang baik untuk proliferasi kuman anaerob. Luka dengan infeksi piogenik dimana bakteri piogenik mengosumsi eksogen pada luka sehingga suasana menjadi  anaerob yang penting bagi tumbuhannya basil tetanus.
2.1.3  Patofisiologi dari Tetanus
Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan clostridium tetani.
Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, memperbanyak diri dan mneghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin.Toksin yang dilepas bersama sel bakteri sel vegetative yang mati dan selanjutnya lisis.Toksin tetanus (dan toksin batolinium) di gabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuscular dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris,sesudah ia mengalami ia mengalami pengangkutan akson retrograt kesitoplasminmotoneuron-alfa. Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal. Dimana toksi ini menghalangi pelepasan neurotransmitter .toksin tetanus dengan demikian meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang disengaja yang di koordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya, system saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus.
Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobic berubah menjadi bentuk vegetatif dan berkembang biak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oxigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi.Secara intra axonal toxin disalurkan ke sel saraf (cel body) yang memakan waktu sesuai dengan panjang axonnya dan aktifitas serabutnya. Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel saraf walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sumsum belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitory transmitter dan menimbulkan kekakuan.Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari.













Suasana yang memungkinkan organisme anaerob Clostiridium tetani berpoliferasi disebabkan keadaan antara lain : luka tusuk dalam dan kotor serta belum terimunisasi, luka karena lalu lintas, luka bakar, luka tembak, gigitan hewan/manusia, gigi berlubang, lesi pada mata, infeksi telinga, tonsil, perawatan luka/tali pusar yang tidak baik.
2.1.5 Pathway

Clostiridium tetani mengeluarkan toksin, toksin diabsorpsi pada ujung saraf motorik dan melalui sumbu silindrik ke SSP
Dari susunan limfatik ke sirkulasi darah arteri dan masuk ke SSP
Toksin bersifat neurotoksik/tetanospasmin, tatanulisin, menghancrkan sel darah merah , merusak leukosit

Kesulitan membuka mulut (tismus), kaku kuduk (epistotonus), kaku dinding perut (perut kanan), dan belakang tulang belakang
Kejang tonik umum, kejang rangsang (terhadap visual, suara, dan taktil), kejang spontan, kejang pada abdomen, dan retensi urine
Sulit menelan/menyusui
Perubahan Fisiologis intrakranial
Penekanan area fokal kortikal
Intake nutrisi tidak adekuat
3. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan
Perubahan mobilitas fisik
Penurunan kemampuan batuk
6. Gangguan mobilitas fisik

1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Peningkatan permeabilitas darah / otak.
Proses inflamasi di jaringan otak (peningkatan suhu tubuh), perubahan tingkat kesadaran, perubahan frekuensi nadi
Peningkatan sekret dan penurunan kemampuan batuk
2. Peningkatan Suhu Tubuh
Penurunan tingkat kesadaran, penurunan perfusi jaringan otak
Koma
7. Kecemasan
4. resiko tinggi kejang berulang
5 resiko tinggi trauma/cidera















Sumber : Patofisiologi tetanus ke masalah perawatan (dimodifikasi dari berbagai sumber)

2.1.6 Manifestasi Klinis
a.       Masa inkubasi clostridium tetani adalah 4-21 hari. Semakin lama masa inkubasi, maka prognosisnya semakin baik. Masa inkubasi tergantung dari jumlah bakteri, Virulensi, dan jarak tempat masuknya kuman (portd’entre) dengan SSP. Semakin dekat luka dengan SSP maka prognosisnya akan semakin serius dan semakin jelek. Misalnya, luka di telapak kaki dan leher bila sama-sama terserang basil tetanus, yang lebih baik prognosisnya adalah luka yang di kaki.
b.      Timbulnya gejala biasanya mendadak, di dahului dengan ketegangan otot terutama pada rahang dan leher.
c.       Sulit membuka mulut (trismus).
d.      Kaku duduk.
e.       Badan kaku dengan epistotonus, tungkai dalam mengalami ekstensi, lengan kuku, dan mengepal.
f.       Kejang tonik.
g.       Kesadaran biasanya tetap baik.
h.      Asfisia dan sianosis akibat kontraksi otot, retensi urine bahkan dapat menjadi fraktur kolumna vertebralis (pada anak) akibat kontraksi otot yang sangat kuat.
i.        Demam ringan (biasanya pada stadium akhir).

2.1.7  Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan Laboratorium : leukositosis ringan, peninggian tekanan cairan otak, deteksi kuman sulit.
            2.1.8 Komplikasi
Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat penyakitnya, seperti :
a.       Laringospasme ( Spame otot faring ) yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saripa) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
b.      Terapi sederhana, seperti sedasi yang mengarah pada koma.
c.       Aspirasi atau apnea, atau konsekuensi dari perawatan intensif, seperti pneumonia berkaitan dengan ventilator.
2.1.9
proliferasi kuman clostridium tetani seperti pada tulang terbuka dan lainnya. Penatalaksaan medis
1.      Pencegahan :
·         Bersihkan port d’entrée, dengan larutan H2O2 3%.
·         Antitetanus serum (ATS) 1500 U/IM.
·         Toksoid tetanus (TT), dengan memerhatikan status imunisasi.
·         Antimikroba pada keadaan berisiko

2.      Pengobatan :
a.       Antitetanus serum (ATS).
-          Dewasa 50.000 U/hari, selama 2 hari berurut-turut, (hari I)diberikan dalam impus glukosa 5 % 100 ml, (hari II) diberikan IM lakukan uji kulit sebelum pemberian.
-          Anak 20.000 U/hari, selama 2 hari. Pemberian secara drip infuse 40.000 U bias di lakukan sekaligus melalui IV line.
-          Bayi 10.000 U/hari, selama 2 hari. Pemberian secara drip infuse 20.000 U bias di lakukan sekaligus melewati IV line.
b.      Fenobarbital : dosis initial 50 mg ( umur < 1 tahun ) : 75 mg, (umur > 1 tahun) dilanjutkan 5 mg/kg BB/hari di bagi 6 dosis.
c.       Diazepam dosis 4 mg/kg BB /hari di bagi dalam 6 dosis.
d.      Largactil : dosis 4 mg/kg BB/hari.
e.       Antimikroba.
f.       Diet tinggi kalori tinggi protein bila trismus di beri diet cair melalui NGT.
g.       Isolasi penderita pada tempat yang tenang, kurangi rangsangan yang membuat kejang, kolaborasi pemberian obat penenang.
h.      Debridement luka, biarkan luka terbuka.
i.        Oksigen 2 l/menit.




2.2 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TETANUS
2.2.1 PENGKAJIAN
a.       Anamnesis
Keluhan utama yang sering menjadi alasan kien atau orang tua membawa anaknya untuk meminta pertolongan kesehatan adalah panas badan tinggi, kejang, dan penurunan tingkat kesadaran.
b.      Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting di ketahui karena untuk mengetahui predisposisi penyebab sumber luka. Disini harus di tanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk di lakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang, dan tindakan apa yang telah di berikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran di hubungkan dengan toksin tetanus yang mengimplamasi jaringan otak. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, tidak responsip, dan koma.
c.       Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah di alami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau  menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernah kah klien mengalami tubuh terluka dan luka tusuk yang dalam misalnya tertusuk paku, pecahan kaca, terkenaa kaleng, atau luka yang menjadi kotor; karena terjatuh di tempat yang kotor dan terluka atau kecelakaan dan timbul luka yang tertutup debu/kotoran juga luka bakar dan patah tulang terbuka. Adakah porte d’entree lainnya seperti luka gores yang ringan kemudian menjadi bernanah dan gigi berlubang di koreng dengan benda yang kotor.
d.      Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang di gunakan klien juga penting untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan mesyarakat seerta respon atau pengaruh dalam kehidupan sehari hari baik dalam keluarga atau masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak pada ststus ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit.
Pada pengkajian pada klien anak perlu di perhatikan dampak hospitalisasi pada anak dan family center. Anak dengan tetanus sangat rentan terhadap tindakan invasif yang sering dilakukan untuk mengurangi keluhan, hal ini memberi dampak stress pada anak dan menyababkan anak kurang kooperatif terhadap tindakan keperwatan dan medis.
Pengkajian psiko-sosial yang terbaik di laksanakan saat obsefasi anak anak bermain atau selama berinteraksi dengan orang tua. Anak-anak sering kali tidak mampu mengekspresikan perasaan mereka dan cenderum memperlihatkan masalah mereka melalui tingkah laku.
e.       Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anamesis yang mengarah pada keluhan klien, pemriksaaan fisik sangat berguna untuk mendukung dari pengkajian anamesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan di hubungkan dengan keluhan keluhan dari klien.
Pada klien tetanus biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh lebih dari normal 38-40 0C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses implamasi dan toksin tetanus yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan penurunan perfusi jaringan otak. Apabila disertai peninhkatan frekuensi pernafasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabilisme umum. TD biasanya normal.

1.      B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, prodoksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan yang sering didapatkan pada klien tetanus yang disertai adanya ketidak efektifan bersihan jalan nafas. Palpasi thorak didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang meurun.
2.      B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan syok hipovelemik yang sering terjadi pada klien tetanus. TD biasnya normal, peningkatan heart rate, adanya anemis karena adanya hancurnya eritrosit.
3.      B3 (brain)
     Pengkajian B3 merupakan pemriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada sistem lainnya.

4.      Tingkat kesadaran (GCS)
Kesadaran klien biasanya kompos mentis. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien tetanus mengalami penurunan pada tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk monitoring pemberian asuhan.
5.      Fungsi serebri
Status mental: obsevasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktifitas motorik yang pada klien tetanus tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.
6.      Pemeriksaan saraf kranial
·         Saraf I. Biasanya pada klien tetanus tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan.
·         Saraf II. Tes ketajaman pengelihatan pada kondisi normal
·         Saraf III,IV,VI. Dengan alasan yang tidak di ketahui, klien tetanus mengeluh mengalami fotophobia atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya. Respons kejang umum akibat stimulus rangsang cahaya perlu di perhatikan perawat untuk memberikan intervensi menurunkan stimulus        cahaya tersebut.
·         Saraf V. Refleks masester menigkat. Mulut mencucu seperti mulut ikan (ini adalah gejala khas pada tetanus).
·         Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
·         Saraf VIII. Tidak di temukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
·         Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut (trismus).
·         Saraf  XI. Di dapatkan kaku kuduk. Ketegangan otot rahang dan leher (mendadak)
·         Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada pasikulasi. Indra pengecapan normal.
·         System motorik
Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan kordinasi pada tetanus tahap lanjut mengalami perubahan.

·         Pemeriksaan reflek
                                    Pemeriksaan reflek dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, atau periusteum derajat reflek pada respon normal.
·         Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, Tic dan distonia. Pada keadaan tertentu klien mengalami kejang umum, terutama pada anak yang tetanus disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang berhubungan sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.
·         System sensori
Pemeriksaan sensorik pada tetanus biasanya di dapatkan perasaan raba normal, perasaan nyeri normal. Perasaan suhu normal. Tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh. Perasaan proprioseftif normal dan perasaan diskriminatif normal.
·         B 4 (BLADER)
Penurunan volume haluaran urin berhubungan dengan penurunan perpusi dan penurunan curah jantung ke ginjal. Adanya retensi urin karena kejang umum. Pada klien yang sering kejang sebaiknya pengeluaran urine dengan menggunakan kateter.
·         B 5 (BOWEL )
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien tetanus menurun karena anoreksia dan adanya kejang, kaku dinding perut (perut papan) merupakan tanda khas dari tetanus. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan BAB.
·         B 6 (BONE)
Adanya kejang umum sehingga mengganggu mobilitas klien dan menurunkan aktivitas sehari-hari. Perlu dikaji apabila klien mengalami patah tulang terbuka yang memungkinkan por de entrée kuman Clostridium tetani , sehingga memerlukan perawatan luka yang optimal. Adanya kejang memberikan resiko pada praktur pertibra pada bayi, ketegangan, dan spasme otot pada abdomen.



f.       Pengelompokan Data
1.      Data subjektif
·         Pada pasien yang mengalami tetanus mengatakan terasa nyeri dan sakit pada derah luka dan rahang, demam, tidak tahu akan sakit yang sedang dialami, dan merasa lemas serta merasa panas meningkat.
2.      Data objektif
·         Terjadinya peningkatan tekan darah
·         Nyeri pada otot
·         Terjadi peningkatan tonus otot
·         Biasanya pasien lemah
·         Tampak gelisah
·         Pergerakan terbatas
·         Dalam bergerak dibantu
·         Tampak pucat
·         Tampak lemah
·         Biasanya pasien gelisah
·         Biasanya pasien menahan nyeri
·         Nafsu makan berkurang
·         Kesadaran menurun
·         Nadi kuat dan cepat
·         Penurunan fungsi ginjal dengan nilai keratinin jauh dari normal
·         Teraba perut teasa keras seperti papan
·         Mengatakan sakit pada daaerah rahang
·         Badan tampak kaku







2.2.2  Diagnosa Keperawatan
a.       Analisa Data

No
Symptom
Etiologi
Problem
1
DS :
-          Klien mengatakan terasa sakit ddan pega-pegal sleuruh utbuh.
-          Klien mengatakan tidak bias atau sulit menelan
DO : - Sekresi pada mulut (++)
-          Posisi terlentang dengan tangan diikat
-          Pernafasan spontan dan ngorok
-          Pemeriksaan paru Rh -/-, wh -/-
-          RR 24 x/ menit

Invasi kuman ke otot bergaris

Otot pernafasan terserang/spasme lairng

Rangsangan air liur/sekresi ++

Kekakuan pada mulut dan lidah
Sulit menelan

Jalan nafas tidak efektif
(aspiksia)

Bersihan jalan nafas


Bersihan jalan napas tidak efektif
2
DS: -
DO:
-          Terjadi peningkatan tonus otot
-          Pergerakan terbatas
-          Teraba perut terasa keras seperti papan
-          Badan tanpak kaku
-          Terlihat sering terjadi kejang otot

Kerusakan

Muskuluskletal dan neuromuscular

Kerusakan mobilitas fisik
3
DS:
DO:
-          Tampak kejang-kejang
-          Tonus otot tak terkendali
-          Terjadi peningkatan tonus otot

Fungsi regulatori kimia

Resiko cedera
4
DS:
-          Klien mengaku cemas dan gelisah
DO:
-          Tampak cemas, gelisah dan murung

Perubahan dalam setatus
Kesehatan



Cemas









5
DS: -
DO:
-          Muka dan dada berkeringan, suhu akral hangat
-          Suhu tubuh 39,5oC, nadi 96 kali /menit takhikardia
-          Baju terbuka
-          Lab. Leukosit

Pembuluh darah/jaringan (neotopi   , limposit    )

Metabolisme

Hiperpireksia

Suhu tubuh

b.      Rumusan Diagnosa  Keperawatan
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan denagan invasi kuman ke otak bergaris ditandai dengan klien mengatakan terasa sakit dan pegal-pegal seluruh tubuh, klien mengatakan tidak bias atau sulit menelan, sekresi pada mulut (++), posisi terlentang dengan tangan diikat, pernafasan spontan dan agak ngorok, pemeriksaan paru Rh -/-, wh -/- , RR 24 x/menit
2.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakanmuskuluskletal dan neuromuscular ditandai dengan terjadi peningkatan tonus otot , pergerakan terbatas, teraba perut terasa keras seperti papan ,badan tanpak kaku ,terlihat sering terjadi kejang otot
3.      Resiko cedera berhubungan dengan fungsi regulatori kimia ditandai dengan tampak kejang-kejang, tonus otot tak terkendali ,terjadi peningkatan tonus otot
4.      Cemas berhubungan dengan perubahan dalam setatus kesehatan di tandai dengan klien mengaku cemas dan gelisah, tampak cemas, gelisah dan murung
5.      Suhu tubuh meningkat berhubungan dengan pembuluh darah/jaringan (neotopi menurun  , limposit meningkat,  metabolisme tinggi,  Hiperpireksia di tandai dengan Muka dan dada berkeringan, suhu akral hangat ,suhu tubuh 39,5oC, nadi 96 kali /menit takhikardia, baju terbuka ,Lab. Leukosit
2.2.3 Rencana Intervensi
            Tujuan rencana intervensi secara umum adalah menghindari komplikasi akibat serangan kejang, menjaga kepatenan jalan nafas, menurunkan panas tubuh, menurunkan stimulus rangssang kejang, dan meningkatkan koping individu serta penurunan tingkat kecemasan.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan adanya secret dalam trakhrea, kemampuan batuk menurun.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan tindakan bersihan jalan napas kembali efektif.
Criteria hasil : secara subjektif sesak napas (-), RR 16-20x/ menit. Tidak menggunakan otot bantu napas, retraksi ICS(-), ronkhi(-/-), mengi(-/). Dapat mendemonstrasikan cara batuk efektif.
Intervensi
Rasionalisasi
Kaji fungsi paru, adanya bunyi napas tambahan, perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori, warna, dan kekentalan sputum.
Membantu dan mengatasi komplikasi pontensial. Pengkajian fungsi pernapasan dengan interval yang teratur adalah penting karena pernapasan yang tidak efektif dan adanya kegagalan , karena adanya kelemahan atau paralisa pada otot –otot interkostal dan diafragma yang berkembang dengan cepat

Atur posisi fowler dan semifowler
Peninggian kepala tempat tidur memudahkan pernapasan, meningkatkan ekspansi dada, dan meningkatkan batuk lebih efektif.
Ajarkan cara batuk efektif
Klien berada pada risiko tinggi bila tidak dapat batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan mengalami kesulitan dalam menelan, yang dapat menyebabkan aspirasi saliva, dan mencetuskan gagal napas akut
Lakukan fisioterapi dada, vibrasi dada
Terapi fisik dada membantu meningkatkan batuk lebih efektif.
Penuhi hidrasi cairan via oral seperti minum air putih dan pertahankan intake cairan 2500 ml/hari
Pemenuhan cairan dapat mengencerkan mucus yang kental dan dapat membantu pemenuhan cairan yang banyak keluar dari tubuh.
Lakukan pengisapan lendir di  jalan napas
Pengisapan mungkin diperlukan untuk mempertahankan kepateanan jalan napas menjadi bersihn  napas
Berikan oksigen sesuai klinis

Pemenuhan oksigen terutama pada klien tetanus dengan laju metabolism yang tinggi.

2. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan adanya kejang berulang.
Tujuan : Tidak teerjadi kontraktir, footdrop, gangguan integritas kulit, fungsi bowell dan bladder optimal serta peningkatan kemampuan fisik.
Kriteria hasil :Skala ketergantungan klien meningkat menjadi bantuan minimal .
Intervensi
Rasionalisasi
Review kemampuan fisik dan kerusakan yang terjadi.
Mengidentifikasi k fungsi dan menentukan pilihan intervensi.
Kaji tingkat imobilisasi, gunakan skala tingkat ketergantungan.
Tingkat ketergantungan minimal care (hanya memerlukan bantuan minimal), partial care(memerlukan bantuan sebagian), dan total care (memerlukan bantuan total dari perawat dan klien yang memerlukan pengawasan khusus karena resiko cedera yang tinggi).
Berikan perubhan posisi yang teratur pada klien,
Perubahan posisi teratur dapat mendistribusikan berat badan secara menyeluruh dan memfasilitasi peredaran darah serta mencegah dekubitus..
Pertahankan body aligment adekuat, berikan latihan ROM pasif jika klien sudah bebas panas dan kejang.
Mencegah terjadinya kontraktur atau footdrop serta dapat mempercepat pengembalian fungsi tubuh nantinya.
Berikan perawatan kulit secara adekuat, lakukan masase, ganti pakaian klien dengan bahan linen dan pertahankan tempat tidur  dalam keadaan kering
Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah gangguan integritas kulit.
Berikan perawatan mata, bersihkan mata dan tutup dengan kapas yang basah sesekali.
Melindungi mata dari kerusakan akibat terbukanya mata terus menerus.
Kaji adanya nyeri, kemerahan, bengkak pada  area kulit
Indikasi adanya kerusakan kulit dan deteksi dini adanya dekubitus pada area lokal yang tertekan.

3. Resiko cidera berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran.
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam perawatan klien bebas dari cidera yangb disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran .
Kriteria hasil : Klien tidak mengalami cedera apabila kejang berulang ada.
Intervensi
Rasionalisasi
Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut, dan otot – otot muka lainnya.
Gambaran tribalitas sistem syaraf  pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi
Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat klien.
Melindungi klien bila kejang terjadi.
Pertahankan bedrest total selama fase akut
Mengurangi resiko jatuh/terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi.
Kolaborasi pemberian terapi : diazepam, Phenobarbital
Untuk mencegah atau mengurangi kejang
Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.

4. Cemas yang berhubungan dengan prognosis penyakit, kemungkinan  kejang berulang.
Tujuan : kecemasan hilang atau berkurang
kriteria hasil : mengenal perasaannya, dapat mengidentifikaasi penyebab atau factor yang memengaruhinya, dan menyatakan ansietas berkurang/hilang
Intervensi
Rasionalisasi
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak.
Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah, dan gelisah
Jelaskan sebab terjadinya kejang
Memberikan dasar konsep agar klien kooferatif terhadap tindakan untuk mengurangi kejang
Hindari konfrontasi
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah , menurunkan kerja sama dan mungkin memperlambat penyembuhan
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan,. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat
Mengurangi rangsangann eksternal yang tidak perlu

Tingkatkan control sensasi klien
Control sensasi klien (dan dalam menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien , menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping(pertahanan diri), yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengelihatan dan memberikan respons balik yang positif.
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapakan.
Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan aneletasnya
Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan
Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
Memberikan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien melayani aktivitas dan pengalihan (misalnya membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi.

5. Peningkatan  suhu tubuh yang berhubungan dengan proses inflamasi dan efek toksin di jaringan otak.
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam perawatan suhu tubuh menurun
Kriteria hasil : Suhu tubuh normal 36 - 37°C
Intervensi
Rasionalisasi
Monitor suhu tubuh klien
Peningkatan suhu tubuh menjadi stimula rangsang kejang  pada klien tetanus
Beri kompres dingin di kepala dan aksila
Memberikan respons dingin pada pusat pengatur panas dan pembuluh darah besar
Pertahankan bedrest total selama fase akut
Mengurangi peningkatan proses metabolisme umum yang terjadi pada klien tetanus
Kolaborasi pemberian terapi : ATS dan antimikroba
ATS dapat mengurangi dampak toksin tetanus di jaringan otak dan antimikroba dapat mengurangi inflamasi sekunder dari toksin




BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka
Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode inkubasi). Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis utamanya adalah hasil dari pengaruh kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri, botulisme).
Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal, tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.
3.2  Saran
1.      Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mengetahui penyebab tetanus dan pencegahannya agar dapat terhindar dari infeksi tetanus baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga .
2.       Bagi Masyarakat
Diharapkan bagi masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya terutama jika ada luka tusuk, terkena paku, pecahan beling dan jatuh di tempat yang kotor karena kecelakaan.  Keadaan tersebut harus segera di tangani langsung dengan membersihkan luka dengan Nhcl agar luka mengurangi infeksi .
3.       Bagi Institusi
Diharapkan agar makalah ini menjadi refrensi untuk mendapat pengetahuan tentang bahayanya penyakit tetanus yang dapat menyebabkan kematian.


DAFTAR PUSTAKA
Batticaca B. Fransisca, 2008, Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan sistem persyarafan,
              Penerbit Salemba Medika.
Mutaqqin Arif, 2008, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan,
              Penerbit Salemba Medika.
Sudoyo W. Aru, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, K. Simadibarata Marellus, Setiati Siti,
     2006, Buku Ilmu Penyakit Dalam, Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam F.K
     Universitas Indonesia.
Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Penerjemah Monica     
           Ester, EGC, Jakarta

Trauma Kepala

TRAUMA KEPALA

A.    Pengertian
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)

B.    Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan  Nilai Skala Glasgow Coma Scale (GCS):
Minor
·         GCS 13 – 15
·         Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
·         Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
Sedang
·         GCS 9 – 12
·         Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
·         Dapat mengalami fraktur tengkorak.
Berat
·         GCS 3 – 8
·         Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
·         Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

c.    Etiologi
§  Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
§  Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
§  Cedera akibat kekerasan.

d.     Patofisiologis
         Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.
         Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
            Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.

E.    Manifestasi Klinis
¨      Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
¨      Kebungungan
¨      Iritabel
¨      Pucat
¨      Mual dan muntah
¨      Pusing kepala
¨      Terdapat hematoma
¨      Kecemasan
¨      Sukar untuk dibangunkan
¨      Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

G.     Komplikasi

·         Hemorrhagie
·         Infeksi
·         Edema
·         Herniasi

H.    Pemeriksaan Penunjang

§  Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT)
§  Rotgen Foto
§  CT Scan
§  MRI

I.    Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
Observasi 24 jam
Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
Anak diistirahatkan atau tirah baring.
Profilaksis diberikan bila ada indikasi.
Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi.
Pemberian obat-obat analgetik.
Pembedahan bila ada indikasi.

J.     Rencana Pemulangan
Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurunnya kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah, dan perubahan bicara.
Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan, efek samping, dan reaksi dari pemberian obat.
Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan sudip lidah, mempertahankan jalan nafas selama kejang.
Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas sehari-hari di rumah, kebutuhan kebersihan personal, makan-minum. Aktivitas bermain, dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas fisik.
Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri, seperti gangguan alat pengaman.
Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual.
Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1.         Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
2.         Pemeriksaan fisik
a.       Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot, hiperventilasi, ataksik)
b.      Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
c.       Sistem saraf :
Ø  Kesadaran à GCS.
Ø  Fungsi saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.
Ø  Fungsi sensori-motor à adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
d.      Sistem pencernaan
Ø  Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar à tanyakan pola makan?
Ø  Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
Ø  Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
e.       Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik à hemiparesis/plegia, gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
f.       Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan à disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
g.      Psikososial à data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga.

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:
Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan  muntah.
Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial.
Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.

C.    Intervensi Keperawatan
1.      Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan: Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam batas normal.
Intervensi:
-        Kaji Airway, Breathing, Circulasi.
-        Kaji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra
-        Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir.
-        Kaji status pernafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas.
-        Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 – 30 derajat.
-        Pemberian oksigen sesuai program.

2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan: Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat, kesadaran tidak menurun, dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Intervensi:
-        Tinggikan posisi kepala 15 – 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis.
-        Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
Ø  peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri, prosedur (peningkatan lendir atau suction, perkusi).
Ø  tekanan pada vena leher.
Ø  pembalikan posisi dari samping ke samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher).
-        Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan, fleksi (harus bersamaan).
-        Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver.
-        Hindari tangisan pada anak, ciptakan lingkungan yang tenang, gunakan sentuhan therapeutic, hindari percakapan yang emosional.
-        Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program.

3.      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
Tujuan: Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak  menunjukkan penurunan berat badan, tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada iritasi pada kulit, buang air besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi:
-        Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas, makan – minum, mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan tempat tidur, dan kebersihan perseorangan.
-        Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi.
-        Perawatan kateter bila terpasang.
-        Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB.
-        Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan demonstrasikan, seperti bagaimana cara memandikan anak.

4.     Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab, integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal.

Intervensi:
-        Kaji intake dan out put.
-        Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor  kulit, membran mukosa, dan       ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine.
-        Berikan cairan intra vena sesuai program.

             5.      Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan  intrakranial.
Tujuan: Anak terbebas dari injuri.
Intervensi:
-        Kaji status neurologis anak: perubahan kesadaran, kurangnya respon terhadap nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas pergerakan menurun, dan kejang.
-        Kaji tingkat kesadaran dengan GCS
-        Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai dengan protokol.
-        Berikan istirahat antara intervensi atau pengobatan.
-        Berikan analgetik sesuai program.

6.  Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
Tujuan: Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan anak tidak mengeluh nyeri, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi:
-        Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat, berkeringat dingin.
-        Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.
-        Kurangi rangsangan.
-        Pemberian obat analgetik sesuai dengan program.
-        Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
-        Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.   Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri.
Tujuan: Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari luka, leukosit dalam batas normal.
Intervensi:
-        Kaji adanya drainage pada area luka.
-        Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh.
-        Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati.
-        Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk kaku kuduk, iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kenjang.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
2.      Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC; 1996.
3.      Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
4.      Suzanne CS & Brenda GB. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3. .

Senin, 12 Januari 2015

ECT


Nursing Student
Mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Selasa, 30 Oktober 2012
TREND ISSUE ECT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang ditinjau dari segala aspek kehidupan. Akan tetapi hal itu tidak semata-mata mebuat Indonesia lepas dari beberapa masalah, terutama yang paling menonjol adalah masalah kesehatan. Saat ini hampir sekitar 26 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa, hal ini disebabkan oleh banyak hal mulai dari himpitan ekonomi hingga hal terkecil sekalipun.

Di Indonesia jumlah penderita penyakit jiwa berat sudah cukup memprihatinkan, yakni mencapai 6 juta orang atau sekitar 2,5% dari total penduduk. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) pada tahun 1985 yang dilakukan terhadap penduduk di 11 kotamadya oleh Jaringan Epidemiologi Psikiatri Indonesia, ditemukan 185 per 1.000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan jiwa baik yang ringan maupun berat. Dengan analogi lain bahwa satu dari lima penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa dan mental. Sebuah fenomena angka yang sangat mengkhawatirkan bagi sebuah bangsa (Anonim, 2009). Hal ini tentu bukanlah hal yang bias dipandang sebelah mata oleh bangsa ini.

Pada 2006, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 26 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Departemen Kesehatan RI mengakui sekitar 2,5 juta orang di negeri ini telah menjadi pasien rumah sakit jiwa (Anonim, 2009). Sumber lain mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2007, mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6 persen dari populasi dan 0,46 persen menderita gangguan jiwa berat (Anonim, 2010). Perkiraan yang sungguh memprihatinkan sekaligus mengerikan. Memprihatinkan, karena selain persoalan-persoalan kasatmata, negeri ini juga dicengkeram problema berdimensi nonfisik. Mengerikan, karena bobot masalah yang ditanggung anak bangsa ini rupanya semakin lama semakin tidak bias dihitung jumlahnya.

Saat ini gangguan jiwa merupakan salah satu penyakit yang tidak bias dipandang sebelah mata lagi, pemerintah harusnya mengambil langkah konkrit dalam hal ini. Akan tetapi dibalik semua kekhawatiran kita akan penyakit jiwa ini, saat ini masyarakat boleh berharap banyak pada kemajuan di bidang IPTEK khususnya di bidang Ilmu KEdokteran JIwa. Saat ini para ahli semakin gencar untuk mengembangkan terapi-terapi untuk pengobatan penyakit jiwa, dan salah satu terapi yang saat ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat adalah terapi ECT (Electro Convulsive Therapy).

Terapi ECT pada kalangan masyarakat umum lebih dikenal dengan istilah terapi kejang listrik. Terapi kejang listrik atau dikenal dengan electro-convulsive therapie (ECT), merupakan terapi yang paling banyak digunakan oleh psikia­ter pada 1930-an, untuk segala macam penyakit kejiwaan, akan tetapi kemudian pemakaiannya menurun dan cara pemberiannya berubah setelah 1970-an (Yul Iskandar, 2010). Walaupun sempat menjadi kontroversi, terpai ECT ini dinyatakan sangat aman dan tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Secara umum, ECT digunakan sebagai pilihan pengobatan terakhir terutama pada anak dan remaja. Namun, hal ini dilakukan setelah semua metode dan pengobatan pada pasien dinilai tak berhasil (Prita Daneswari, 2010).

Terapi dengan konvulsi sebenarnya telah dikenal sejak abad 16. Paraselsus (140-1541) menggunakan camphor atau kamper atau kini disebut kapur barus. Kamper ini diberikan secara oral untuk menginduksi kejang sebagai terapi pada pasien gangguan mental. Penggunaan kamper ini bertahan sampai abad ke-18. Pada sekitar tahun 1917, Julius Wagner-Jaugregg, seorang psikiater dari Wina, mulai menggunakan malaria sebagi penginduksi demam untuk mengobati pasien dengan paresis umum pada pasien gangguan mental (sipilis terminal). Pada tahun 1093, mulai dikenal pula penggunaan insulin danps y c hos ur ge r y. Manfred Sakel dari Wina mengumumkan kesuksesan pengobatan skizofrenia dengan insulin. Insulin ini digunakan untuk menginduksi koma yang pada beberapa pasien menyebabkan kejang. Kejang ini yang diperkirakan menyebabkan perbaikan pada pasien. Pada tahun 1934, Ladislaus von Meduna dari Budapest meninjeksi kamper dalam minyak untuk menginduksi kejang pada pasien dengan skizofrenia katatonik. Ini merupakan terapi konvulsi modern pertama. Terapi dinyatakan berhasil, demikian juga dengan sejumlah pasien psikotik lainnya. Pada tahun 1938, di Roma, Ugo Cerleti dengan asistennya Lucio Bini melakukan ECT pertama pada pasien skizofrenia. ECT dilakukan sebanyak 11 kali dan pasien memberikan respons yang bagus. Pengunaan ECT kemudian menyebar luas di seluruh dunia. Kini ECT digunakan terutama pada depresi mayor dan skizofrenia. (www.scribd.com). Hal ini menunjukkan berbagai usaha telah dilakukan untuk mengembangkan terapi konvulsif ini, dann saat ini terapi konvulsif menjadi salah satu alternative pengobatan bagi pasien penderita gangguan jiwa.
          
Terapi konvulsif mungkin merupakan salah satu terapi yang harusnya menjadi sebuah trend dan semakin dikembangkan oleh para ahli, mengingat semakin meningkatnya angka kejadian pasien dengan gangguan jiwwa di Indonesia, terlebih saat ini semakin banyak factor pencetus dan predisposisi sehingga orang sangat mudah mengalami depresi yang berujung pada gangguan jiwa permanen. Hal inilah yang melatarbelakangi kami untuk mengangkat Terapi ECT sebagai salah satu tema dalam makalah kami, dan kami ingin mebahas lebih jauh mengenai terapi ECT ini terlebih lagi dalam bidang ilmu kami yaitu ILmu Keperawatan, sehingga kami berharap makalah ini mampu meberikan sumbangsih pikiran bagi pembacanya.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat kami rumuskan dan yang dibahas dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah sejarah awal Electro Convulsive Therapy?
2.      Bagaimanakah pengertian dari Electro Convulsive Therapy?
3.      Bagaimanakah cara kerja Electro Convulsive Therapy?
4.      Bagaimanakah reaksi atau mekanisme tubuh ketika mendapat Electro Convulsive Therapy?
5.      Apakah Indikasi, Kontra Indikasi, dan Efek Samping dari pemberian Electro Convulsive Therapy?
6.      Apakah keuntungan dan kerugian dari pemberian Electro Convulsive Therapy?
7.      Bagaimanakah aspek legal dan etik dalam pemberian Electro Convulsive Therapy?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai penulis melalui penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui sejarah awal dari Electro Convulsive Therapy
2.      Mengetahui pengertian dari Electro Convulsive Therapy
3.      Mengetahui cara kerja Electro Convulsive Therapy
4.      Mengetahui reaksi atau mekanisme tubuh ketika mendapat Electro Convulsive Therapy
5.      Mengetahui Indikasi, Kontra Indikasi, dan Efek Samping dari pemberian Electro Convulsive Therapy
6.      Mengetahui keuntungan dan kerugian dari pemberian Electro Convulsive Therapy
7.      Mengetahui aspek legal dan etik dalam pemberian Electro Convulsive Therapy

1.4 Manfaat
manfaat yang diharapkan oleh penulis melalui penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat luas tentang manfaat dari pemberian Electro Convulsive Therapy pada klien yang mengalami Gangguan Jiwa
2.      Dapat memperkaya khasanah medis dunia dan Indonesia khususnya dalam penatalaksanaan penderita Gangguan Jiwa
3.      Dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai bahan pertimbangan dalam penanganan dan penatalaksanaan klien Gangguan Jiwa
4.      Dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai legal dan etik dari pemberian Electro Convulsive Therapy

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum
      2.1.1 Sejarah ECT
ECT pertama kali dilakukan di Roma pada tahun 1938. Seperti peristiwa-peristiwa lain dalam sains, Pada tahun 1946, Scribonius Largus menggambarkan penerapan listrik pada ikan torpedo kepala sebagai pengobatan untuk sakit kepala. Pada tahun 1470, seorang Jesuit misionaris Ethiopia menerapkan lele listrik kepada orang-orang (situs anatomi tidak diketahui) sebagai sarana untuk mengusir setan. Di tahun 18  ke belut listrik abad diaplikasikan ke kepala (kondisi diperlakukan tidak diketahui). Namun, tidak ada sejarah yang jelas penerapan listrik ke kepala untuk pengobatan gangguan mental sebelum 1938. Kejang-kejang telah diinduksi untuk tujuan medis pada waktu yang berbeda atas berabad-abad. Paracelsus (1490-1541) dikelola kamper melalui mulut untuk mendorong kejang-kejang dalam pengobatan gangguan mental. Rekening pada 1785 muncul di London Medical Journal of  Kamper disebabkan kejang-kejang untuk perawatan psikosis. ECT muncul pada waktu yang menarik. Hingga awal tahun 1920-an kecil dapat ditawarkan untuk orang dengan kelainan mental serius selain perawatan manusiawi.

Akibatnya popularitas ECT terus menurun dan mencapai titik terendah pada era tahun 1970-an. Pada tahun 1980 tercatat hanya 30.000 pemakaian ECT di seluruh Inggris, angka ini jauh dibandingkan catatan tahun 1972 yang masih mencapai 60.000.Ditemukannya obat antidepresan trisiklik pada tahun 1950-an turut menggeser popularitas ECT. Terlebih ketika antidepresan yang jauh lebih aman, selektif serotonin reuptake inhibitors (SSRI) diperkenalkan tak lama kemudian.

Namun baru-baru ini, peneliti dari Columbia University merancang prosedur ECT terbaru yang diklaim mampu mengurangi efek samping. Jika pada ECT konvensional arus listrik dialirkan selama 1,5 milidetik, maka pada prosedur terbaru dipersingkat menjadi 0,3 milidetik.

Prosedur baru ini bisa mengurangi risiko kehilangan ingatan, serta memberikan waktu pemulihan 2 kali lebih cepat. Hasil pengujian sementara menunjukkan keberhasilan terapi meningkat hingga 73 persen dibandingkan prosedur konvensional. (Anonim, 2010).

2.1.2 Pengertian
a.       Electro Convulsive Therapy adalah Sistem Pengobatan (terapi) berupa pemberian rangsangan listrik pada otak untuk pasien pada rumah sakit jiwa. Terapi rangsangan listrik terbukti lebih manjur dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan.
b.      ECT  adalah pengobatan gangguan kejiwaan yang menggunakan arus listrik singkat pada otak dengan menggunakan mesin khusus dimana pasien di anastesi terlebih dahulu dan akan menimbulkan efek convulsi karena relaksasi otot.
c.       ECT adalah suatu terapi berupa aliran listrik ringan yang dialirkan ke dalam otak untuk menghasilkan suatu serangan yang serupa dengan serangan epilepsi.
d.      Electroconvulsive therapy (ECT), adalah suatu teknik terapi dengan menggunakan gelombang listrik yang dapat membantu kesembuhan klien dengan depresi (Anonim. 2010)
Jadi, ECT merupakan pengobatan somatik untuk menginduksi kejang grand mal secara buatan dg mengalirkan arus listrik ke dalam otak  melalui elektroda yang dipasang pada satu atau kedua pelipis.

2.1.3 Prosedur Pemasangan
ECT dilakukan dengan mengirimkan sinyal listrik ke otak yang menyebabkan kejang sementara. Mesti terlihat menakutkan, tak perlu khawatir karena sebelum menjalaninya pasien terlebih dahulu diberikan anestesi umum untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh. Rangkaian terapi ECT biasanya dilakukan 6-12 kali selama beberapa minggu.
ECT dilakukan dengan mengalirkan listrik melalui dua elektroda yang dilekatkan pada daerah temporal kepala. Sebelum menjalani pengobatan, pasien diberikan anestesi umum dan menerima relaksasi otot guna mencegah cedera. ( Media Hidup Sehat, 2010)
Persiapan sebelum dilakukan tindakan ECT :
1.   Inform consent
2.   Puasa 6 jam
3.   Stop obat psikiatri oral
4.   Premedikasi sedatif tidak direkomendasikan karena dapat memperpanjang masa pulih.
5.   Pilihan obat anestesi short acting (propofol atau thiopental) + muscle relaxant (succinylcholine)
6.   Untuk mencegah efek parasimpatik dapat diberikan atropine.
7.   Untuk mencegah efek simpatis pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler dapat diberikan atenolol 50 mg pada saat preoperatif
8.   Elektrode dapat diletakkan di sisi yang sama pada kepala (unilateral) untuk mengurangi efek samping memory loss dan meminimalisir efek kognitif ataupun diletakkan pada kedua sisi dari kepala (bilateral). Namun metode bilateral biasanya lebih efektif dan lebih direkomendasikan dibandingkan unilateral.
9.   Level stimulus untuk bilateral ECT adalah ½ kali ambang kejang, sedangkan untuk unilateral bisa melebihi12 kali ambang kejang. Ambang kejang dapat ditentukan dengan sistem trial and error ataupun menggunakan standar yang sudah ada. (Electroconvulsif therapy, 2010)

Prosedur tindakan ECT :
a.       Periksa badan pasien
b.      Sebelum dilakukan tindakan ECT pasien telah dipuasakan
c.       Kosongkan kandung seni dan rektum
d.      Jika pasien menggunakan gigi palsu sebaiknya dilepas
e.       Pasien dibaringkan terlentang
f.       Bersihkan bagian temporal yang akan ditempel elektroda
g.      Beri bahan yang lunak pada rahang atas dan bawah untuk menghindari gigitan yang keras
h.      Dagu pasien ditahan
i.        Tahan sedikit badan pasien agar pasien tidak jatuh saat dilakukan tindakan
j.        Elektroda ditekan pada temporal dengan kekuatan sedang

2.1.4 Mekanisme Kerja
Didalam buku psikiatri dijelaskan bahwa terapi elektrokonvulsi dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ketubuh sehingga penderita menerima aliran listrik yang terputus-putus. Alat yang digunakan dalam terapi ini dinamakan konvulsator didalamnya terdapat pengatur waktu voltase yang merupakan pengatur waktu otomatis memutuskan aliran listrik yang keluar sesudah waktu yang ditetapkan.

Prinsip kerja dari terapi elektrokonvulsi ialah aliran listrik dimasukkan kedalam kepala orang yang mengalami gangguan jiwa, setalah itu orang yang menjalaninya menjadi tidak sadar seketika dan konvulsi yang terjadi mirip epilepsy, diikuti fase klonik, kemudian rasa relaksasi otot dengan pernapasan dalam dan keras. Orang menjadi tidak sadar kurang lebih 5 menit dan biasanya setelah bangun dan sadar,kemudian timbul rasa kantuk,kemudian orang tersebut tertidur.( Residen Bagian Psikiatri UCLA. 1997).

2.2 Indikasi, Kontraindikasi dan Efek Samping ECT
      2.2.1 Indikasi
      Adapun indikasi dari penggunaan ECT adalah sebagai berikut:
Depresi berat à termasuk depresi involutif (pd usia lanjut)
Gangguan bipolar
Schizophrenia , terutama :
·         Tipe katatonik
·         Tipe schizoafektif
·         Akut
      2.2.2 Kontraindikasi
      Adapun kontraindikasi dari ECT yang mutlak adalah:
SOL (Space Occupying Lesion)
Infark Myocard
Sedangkan kontraindikasi dari ECT yang relative adalah:
Penyakit jantung: dekompensasio kordis, angina pektoris, A-V Block, aneurisma aorta, dll
Kelainan tulang à skoliosis, kiphosis, dll
Kehamilan à keguguran
Hipertensi berat
Hiperpireksia
Diatesa Haemoragic
Epilepsi
Ansietas berat           
(Anonim, 2009).
      2.2.3 Efek Samping
      Adapun efek sampng dari ECT adalah:
1.      Patah tulang Vertebra
2.      Luksasi mandibula
3.      Apnoe memanjang
4.      Aspirasi pneumonia
5.      Kematian
6.      Hilang ingatan sementara
7.      Aritmia
(Syamsir BS, Bahagia Lobis, 2009).
2.3 Keuntungan dan Kerugian ECT
      2.3.1 Keuntungan
Efektifitas ECT dalam mengobati pasien dengan gangguan jiwa karena adanya peningkatan sensitivitas reseptor terhadap neurotransmitter. ECT meningkatkan pergantian dopamin, serotonin dan meningkatkan pelepasan norepineprin dari neuron-neuron ke reseptor. ECT juga akan menstimulasi pelepasan serotonin.

Pada depresi terjadi gangguan neurotrasmitter otak yaitu penurunan dopamin, serotonin dan norepineprin. Dengan ECT penurunan tersebut dapat ditingkatkan, sehingga pasien depresi dapat disembuhkan dengan pemberian ECT. ECT adalah terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini sering digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik. Pada penderita dengan risiko bunuh diri, ECT menjadi sangat penting karena ECT akan menurunkan risiko bunuh diri dan dengan ECT lama rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.

      2.3.2 Kerugian
Tidak ada kejelasan  mengapa ECT bisa menghasilkan sikap yang negatif. Salah satu faktor mungkin karena sikap fanatik kita, yaitu sikap jijik untuk melakukan tindakan biologis tertentu. Kejang –kejang, seperti muntah adalah bukan sesuatu suka kita tonton. Mungkin ada faktor evaluasi.  Kejang-kejang dan muntah, dapat mengindikasikan sebagai penyakit yang mungkin dapat menular.  Masyarakat secara genetis diprogramkan untuk takut dan menghindari situasi seperti itu. Kita menghindari berdiskusi  topik kejang-kejang karena beberapa orang yang menderita epilepsy kurang setuju dengan terapi ECT.

ECT sebagai alat terapi orang yang mengalami gangguan jiwa karena banyak efek samping yang ditimbulkan seperti yang Patah tulang vertebra, Kehilangan memori dan kekacaun mental sememtara, Dislokalisasi sendi rahang, Amnesia, Nyeri kepala, bahkan samapi kematian. Risiko yang ditimbulkan juga cukup berbahaya seperti kerusakan otak, kematian dan kehilangan memori permanen. Dari segi etik juga tidak etis memperlakukan manusia seperti hewan percobaan walaupun dibilang cukup efektif untuk terapi gangguan kejiwaan tapi sangat kurang etis, apalagi untuk budaya kita.(http://www.ect.org/effects/testimony.html).

2.4 Legal Etik Terapi Electrokonvulsif (ECT)
Pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) pada pasien dengan gangguan jiwa menjadi dilema etik dalam penerapannya karena dilihat dari efek samping yang dapat terjadi seperti gangguan pada memori ( retrograde dan anterograde amnesia ) menjadi pertimbangan dalam pelaksanaannya. Studi etik dalam perawatan kesehatan menekan pada pemecahan dilema etik yang sering terjadi karena telah begitu banyak situasi yang membingungkan secara moral muncul dalam perawatan kesehatan, namun etik tidak boleh berkurang menjadi hanya suatu pertimbangan terhadap masalah sulit. Etik keperawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter serta sikap perawat terhadap orang lain. Pengetahuan perawat diperoleh melalui keterlibatan pribadi dan emosional dengan orang lain dengan ikut terlibat dalam masalah moral mereka, (cooper, 1991). Etik keperawatan merupakan sudut pandang pada apa yang baik dan benar untuk kesehatan dan kehidupan manusia. Mengarahkan bagaimana seorang perawat harus bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Perawat etis bertindak dan memperlakukan orang lain dengan cara tertentu yang konsisten dengan norma keperawatan.

Kode etik keperawatan membantu perawat dalam pertimbangan moral, dimana prinsip moral dalam praktek keperawatan tersebut yaitu :
a.       Autonomi
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih rencana kehidupan dan cara mengatur dirinya. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu yang dapat memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Setiap tindakan keperawatan harus melibatkan pasien dan berpartisipasi dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan. Dalam pemberian terapi pasien memiliki kebebasan menerima semua prosedur terapi yang akan diberikan.

b.      Beneficience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Perawat secara moral berkewajiban membantu orang lain melakukan sesuatu yang menguntungkan dan mencegah timbulnya bahaya. Dilihat dari tujuan pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) baik untuk kesembuhan pasien jiwa dan sesuai dengan prinsip tersebut.
c.       Nonmaleficience
Merupakan penghindaran dari bahaya, dapat dilihat kontinum rentang dari bahaya yang tidak berarti sampai menguntungkan orang lain dengan melakukan yang baik. Menuntut perawat menghindari yang membahayakan pasien selama pemberian asuhan keperawatan. Dari prinsip ini pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) tidak sesuai karena dapat menimbulkan bahaya, namun jika dilihat dari tujuan pemberian pelaksanaan terapi ini sesuai dengan prinsip beneficience yang semata-mata untuk kesembuhan pasien jiwa.

d.      Justice
Merupakan suatu prinsip moral untuk berlaku adil terhadap semua pasien sesuai dengan kebutuhan. Setiap individu mendapat tindakan yang sama berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Prosedur terapi ini pada setiap orang yang menerimanya akan sama dalam setiap pelaksanaannya.

e.       Kejujuran, Kesetiaan dan Kerahasiaan
Kejujuran adalah kewajiban untuk mengungkapkan yang sebenarnya atau tidak membohongi pasien didasarkan pada hubungan saling percaya. Kerahasiaan adalah kewajiban untuk  melindungi informasi rahasia. Kesetiaan adalah kewajiban untuk menepati janji. Dalam pelaksanaan terapi ini perawat harus secara jujur memberi informasi mengenai segala tindakan yang akan dilakukan baik itu tujuan, efek samping maupun biaya dari tindakan yang akan dilakukan.

Dalam perawatan kesehatan, pasien jiwa dan keluarga seringkali memiliki persepsi yang berbeda yang sebabkan oleh penyakit pasien, kurang informasi teknis, regresi yang disebabkan oleh rasa sakit dan penderitaan, serta lingkungan yang tidak dikenal. Peran perawat sebagai pelindung sangat penting dalam etik keperawatan. Dari semua prinsip tersebut pasien jiwa atau keluarga berhak menerima informed consent sebelum terapi dilaksanakan. Dalam hal ini pasien berhak mengetahui segala informasi mengenai prosedur pelaksanaan electroconvulsive therapy ( ECT ), indikasi dan kontraindikasi pemberian, mekanisme kerja, hasil yang akan didapat dan efek sampingnya. Menurut perundangan WHO tentang kesehatan jiwa menyatakan ECT harus diberikan hanya setelah memperoleh informed consent. Sesuai dengan UU No.29/2004 tentang Praktek Kedokteran, Pasal 52 : Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
Menolak tindakan medis; dan
Mendapatkan isi rekam medis.
Pasien jiwa dan keluarga juga memiliki hak untuk menyetujui persetujuan tersebut dilihat pada Pasal 39 : Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.
(http://www.dinkes-kotasemarang.go.id/dokumen/uu_praktik_kedokteran.pdf)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari beberapa penelitian sebelumnya penggunaan ECT banyak menimbulkan efek samping. Namun baru-baru ini, peneliti dari Columbia University merancang prosedur ECT terbaru yang diklaim mampu mengurangi efek samping. Jika pada ECT konvensional arus listrik dialirkan selama 1,5 milidetik, maka pada prosedur terbaru dipersingkat menjadi 0,3 milidetik.

Prinsip kerja ECT ialah aliran listrik dimasukkan ke dalam kepala orang yang mengalami gangguan jiwa hingga pasien tidak sadar dan diikuti konvulsi yang diikuti fase klonik, rasa relaksasi otot dengan pernapasan dalam dan keras.

ECT memiliki keuntungan dan kerugian. Dimana pernyataan tersebut bila dilihat dari segi perseorangan / orang yang tidak mengalami gangguan depresi atau sebagainya, menganggap ECT sangat memiliki kerugian. Akan tetapi sebaliknya, bagi para penderita depresi atau sebagainya, ECT merupakan keuntungan bagi mereka, walaupun tidak seutuhnya 100%.

Pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) pada pasien dengan gangguan jiwa menjadi dilema etik dalam penerapannya karena dilihat dari efek samping yang dapat terjadi. Sehingga sebagai seorang perawat kita harus memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Dalam perawatan kesehatan, pasien jiwa dan keluarga seringkali memiliki persepsi yang berbeda yang sebabkan oleh penyakit pasien, kurang informasi teknis, regresi yang disebabkan oleh rasa sakit dan penderitaan, serta lingkungan yang tidak dikenal. Peran perawat sebagai pelindung sangat penting dalam etik keperawatan.

Pasien jiwa atau keluarga berhak menerima informed consent sebelum terapi dilaksanakan. Dalam hal ini pasien berhak mengetahui segala informasi mengenai prosedur pelaksanaan electroconvulsive therapy ( ECT ), indikasi dan kontraindikasi pemberian, mekanisme kerja, hasil yang akan didapat dan efek sampingnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman atau masalah kebelakangnya.

3.2 Saran
Seiring berjalannya waktu ilmu pengetahuan terus berkembang dan berbagai hal-hal baru mulai ditemukan. Seperti halnya terapi elektrokonvulsif yang dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk menyembuhkan gangguan jiwa khususnya depresi berat. Namun, masih banyak hal yang perlu diteliti mengenai metode tersebut. Oleh karena itu penulis menyarankan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih suatu metode pengobatan karena disamping memberikan manfaat yang cukup besar juga dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan bagi penderita.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Gangguan Jiwa MEngancam BAngsa. Online http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/2183-gangguan-jiwa-mengancam-bangsa (Akses: 9 November 2010)

Anonim. 2009. 1 dari 4 Orang Indonesia Mengalami GAngguan JIwa. Online http://imron46.blogspot.com/2009/12/1-dari-4-orang-indonesia-mengalami.html (Akses: 9 November 2010)

Anonim. 2010. Penderita Gangguan Jiwa Ringan Indonesia Meningkat. Online http://www.tribun-timur.com/read/artikel/100259/sitemap.html (Akses: 10 November 2010)

Yul Iskandar. 2010. Terapi Kejang LIstrik. Online http://web.bisnis.com/konsultasi/4id472.html?PHPSESSID=j6avm8nrm81kn5ici51mg3jrr2 (Akses: 10 November 2010)

Prita Daneswari. 2010. Terapi Kejut Listrik Sembuhkan Depresi Akut. Online  http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2010/08/19/3012/13/Terapi-Kejut-Listrik-Sembuhkan-Depresi-Akut (Akses: 11 November 2010)

http://www.scribd.com/doc/37699083/ECT (Akses: 11 November 2010)

Anonim. 2010. http://www.detikhealth.com/read/2010/08/03/104026/1412378/763/nyeri-dan-gelisah-bisa-ditarik-gelombang-listrik?d883301heal (Akses: 12 November 2010)

Anonim.  2010. http://berita.liputan6.com/luarnegeri/200501/94487/class=%27vidico%27 (Akses: 12 November 2010)

Anonim. 2010. http://www.news-medical.net/news/2005/04/20/19/Indonesian.aspx (Akses: 12 November 2010)
Residen Bagian Psikiatri UCLA. 1997. Buku Saku Psikiatri. Jakarta :EGC. http://books.google.co.id/books?id=mfsgp_zkmWwC&printsec=frontcover&hl=en#v=onepage&q&f=false. (Akses : 11 November 2010)

Anonim. 2009. Terapi Dalam Psikiatri. http://bahanpsikiatri.files.wordpress.com/2009/11/terapi-dalam-psikiatri.ppt. (Akses: 11 November 2010)

Syamsir BS, Bahagia Lobis.2009. Psikofarmaka, Terapi Kejang Listrik & Psikoterapi. http://ocw.usu.ac.id/course/download/1110000129-brain-and-mind-system/bms166_slide_psikofarm (Akses: 10 November 2010)

Anonim 2009. ECT. Online_ http://www.ect.org/effects/testimony.html (Akses: 10 November 2010)

Anonim. 2010. Electro Convulsif Therapy (ECT). Online. www.drvegan.wordpress.com (Akses: 10 November 2010)

Anonim. 2009. Isu Etik Dan Legal Dalam Keperawatan Jiwa. Online
http://artcell.byethost6.com/art/buat07/mhn1/(New)MHNI-legal%20and%20ethics.ppt (Akses: 12 November 2010)

Potter, Patricia A. & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta

Kamis, 01 Januari 2015

bb

https://www.youtube.com/watch?v=sB6JI2jEjqo&list=PLoNpFBZPTiZyJG-XlVw_zgTbvDg2ZMtRG